[FF Berantai] Flechazo: Suddenly

Fleca_zho

Flechazo: Suddenly

by ciyel

Park Chanyeol and others | school life, romance, comedy, brothership | PG

Prev: Prolog | Clueless | Drama | Puzzled | The Other Side | Ups! | Heart Attack

.

Karena terus menebak hanya akan membuatmu pusing

.

.

Jari-jemari Chanyeol sibuk menari di atas layar datar ponselnya, matanya terfokus pada puluhan akun para siswi dalam jejaring sosial tanpa memedulikan ke mana kakinya telah melangkah. Chanyeol tidak perlu khawatir memang karena saat ini dia sedang melewati jalan setapak yang menuju ke rumahnya, tentunya jalanan yang sangat dia hafal.

Pria jangkung itu sesekali menggaruk kepalanya, membungkuk pada seseorang yang lewat, kadang berhenti sejenak karena otak di kepalanya mulai mengepul-berasap. Benar, Chanyeol sedang berpikir keras akibat perkataan Jongin kemarin tentang pacar sewaan. Sudah setengah hari ini dia sibuk memilih seseorang yang bisa dijadikan pacar hanya untuk membuktikan pada Yoora. Mulai dari mencari akun siswi di sekolahnya, teman SMP, bahkan mantannya. Ah, Chanyeol memang tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya dia hanya iseng, ibarat mencari jalan keluar lain untuk masalahnya. Siapa tahu sampai hari ke 21 dia belum berhasil mendapatkan Baek Sumin. Paling tidak dia tetap bisa memenangkan taruhannya.

Dia pintar, cantik, lumayan tinggi. Mungkin kalau aku sedikit memohon dia mau membantuku” gumam Chanyeol sambil memandang foto Miju, teman sekelasnya sewaktu SMP. “Ahh!!” Dalam beberapa detik Chanyeol kembali mengeluh. Memilih pacar bohongan ternyata lebih sulit daripada memilih istri. Yang penting cinta, bukan begitu? Sudahlah Chanyeol masih bisa mencari yang lain jika Miju belum putus dengan pacarnya.

“ah menyebalkan aku benci oppa!!”

Tiba-tiba Chanyeol menghentikan langkahnya saat sebuah suara familiar mengusik telinganya.

Wae? Apa aku tidak boleh? Ah oppa menyebalkan. Aku benci!”

Mata Chanyeol terbelalak saat mendapati suara itu berasal dari mulut Jung Soojung. Ada apa dengan mereka? Apa Soojung bertengkar dengan Minhyuk? Pikiran Chanyeol beralih pada dua orang yang sedang bertengkar. Tubuh Minhyuk memang tidak jelas terlihat dari sudut pandang Chanyeol, dari samping studio itu dia hanya bisa melihat Soojung dengan ekspresi kesalnya, namun frekuensi suara Minhyuk cukup keras untuk sampai di telinga Chanyeol.

“Kau tetap mau seperti ini? Keras kepala?” Terdengar suara Minhyuk, sekarang Chanyeol benar-benar terjerumus dalam percakapan Soojung dan Minhyuk, semakin dia mendengarnya semakin tinggi rasa penasaran yang memenuhi pikirannya. Dan sudah jelas, tujuannya menyebar gosip dengan segera.

“Lebih baik aku latihan bersama teman-temanku” ucap Minhyuk disertai dengan debaman suara pintu tertutup. Cukup keras pintu kaca itu terbanting, getarannya sampai dinding tempat Chanyeol bersembunyi.

Muka Soojung terlihat kusut, matanya mendung sudah penuh dengan genangan air yang siap tumpah. Ada rasa kasihan dalam hati Chanyeol tapi apa daya berita heboh ini pasti sangat ditunggu teman-temannya apalagi Jongin.

“Berhenti mengetik pesan itu! Jangan katakan pada mereka. Aku mohon, sunbae . . .” Nada suara Soojung semakin melemah ketika mendekati Chanyeol.

Ne?” Reaksi Chanyeol. “Matilah aku” pikirnya dengan tatapan gugup yang ditunjukkan pada Soojung.

“Tidak usah pura-pura. Sunbae pasti sudah melihat semuanya.” Tanpa ragu Soojung mengambil ponsel dari gengaman Chanyeol, menekan tombol delete sampai semua kata yang telah diketik Chanyeol menghilang. “Maaf, tapi aku benar-benar minta tolong pada sunbae untuk tidak mepublikasikan hal ini” ucap Soojung sambil mengembalikan ponsel Chanyeol.

Entah angin apa yang membawa Soojung berdiri sedekat ini dengan Chanyeol. Entah bagaimana cara Soojung merapalkan kalimat memohon sehingga Chanyeol kehilangan kata-kata untuk menyangkal permintaanya. Wah, pantas saja Jongin tergila-gila dengan gadis cerewet ini. Huh. . . lalu kalimat apa yang harus Chanyeol ucapkan pada wanita ini? Kenapa kepalanya serasa kehilangan otak untuk berpikir.

“Krekk. . .” Sebelum sempat Chanyeol menemukan kembali kata-kata yang hilang sosok Minhyuk muncul.

“Kau masih di sini?” Tanya Minhyuk pada Soojung tapi matanya tertuju pada pria yang berdiri di depannya. “Aah. Ini, ponselmu ketinggalan” ucap Minhyuk sambil memberikan ponsel pada Soojung.

Chanyeol menyadari keberadaanya sekarang merupakan sebuah kesalahan. Mungkin dalam sejarah percintaan Soojung dan Minhyuk dia akan menjadi orang pertama yang memicu perang dunia kedua setelah meredanya perang dunia pertama beberapa menit lalu.

Soojung menarik ponselnya dengan kasar dari tangan Minhyuk. “Ayo sunbae.” Tanpa canggung, atau memang Soojung adalah wanita yang tak memiliki rasa canggung, dia menggandeng tangan Chanyeol dan pergi meninggalkan Minhyuk dengan seribu pertanyaan. Ah, nasib baik? Buruk, atau sangat buruk? Chanyeol akan mengetahuinya besok senin di sekolah.

. . .

“Aku pulang” seru Chanyeol saat menapakan kaki di rumahnya. Segera setelah itu dia merebahkan tubuhnya di sofa. Lelah rasanya setelah mengalami kejadian hari ini.

Aigo ada apa dengan anak mama, sepertinya sedang murung. Bukankah baru saja bertemu wanita cantik? Sepertinya bukan . . . siapa itu kemarin juniormu? Aah, Sumin” ucap mama Chanyeol berusaha mengoda putranya.

Wanita cantik? Apa yang dimaksud mama Chanyeol itu Jung Soojung? Benar saja Chanyeol memang baru bertemu wanita itu. Tunggu dulu, bagaimana mamanya tahu.

“Mama tahu dari mana aku bertemu seorang wa ni ta?” Pertanyaan Chanyeol terpenggal-penggal pada kata terakhir, seperti ada yang mengganjal saat mengatakan kata ‘wanita’ pada mamanya.

“Em, tentu saja mama tahu” ledek mama Chanyeol.

“Aku pulang” terdengar suara Yoora menutup pintu.

“Kau sudah pulang” seru mama Chanyeol melihat putrinya pulang.

“Ooh itu Soojung, dia juniorku juga ma. Menurut mama cantik siapa, Soojung atau Sumin?” Chanyeol sengaja mengalihkan pembicaraan dan meninggikan suaranya agar Yoora mendengarnya.

“Entahlah, mereka semua cantik. Tapi mama ingin kau memilih yang terbaik bukan yang tercantik.” Komentar mamah Chanyeol membuat laki-laki itu bersemangat.

Ne!!” Jawab Chanyeol sambil memandangi Yoora yang berjalan dengan lemas menuju kamarnya. Chanyeol mengira umpannya tadi digigit oleh Yoora, pasti wanita pemarah itu sedang sebal setenga mati karena bepikir taruhannya kalah.

“Apa dia baik-baik saja?” Ucap mama Chanyeol.

“Siapa ma?” Tanya Chanyeol sambil menoleh ke mamanya.

“Kakamu” jawab mama Chanyeol singkat.

– Flechazo –

Chanyeol sudah duduk di depan meja makan dengan sepiring sandwich tuna dan segelas susu putih. Perasaannya sedang baik pagi ini. Suasana hatinya begitu lapang, bahkan kalaupun Yoora mengusiknya dengan seribu pertanyaan mengenai pria cantik alias Baekhyun, dia mampu menangkisnya dengan puluhan ribu jawaban.

Haha sepertinya Chanyeol sudah siap bertempur. Tapi, di mana gerangan lawannya. Kenapa belum juga muncul. Biasanya sebelum Chanyeol menelan gigitan pertama makan paginya penyihir itu langsung muncul dengan rambut berantakan dan hidung yang mengendus-endus bau wangi makanan. Di mana orang itu sekarang? Tidak asik jika bermain game tanpa lawan.

“Chanyeol-ah.”

Ne!” Sepertinya laki-laki itu terkejut dengan seruan mamanya.

“Tolong panggil kakakmu, sejak semalam dia belum menyentuh makanan” pinta mamanya.

Ne???” Chanyeol semakin terkejut dengan ucapan mamanya barusan. Seorang Yoora belum makan dari semalam? Ini situasi gawat. Langka. Tidak pernah ditemukan dalam kitab Yoora tentang meninggalkan makan malam, atau tentang tidur tanpa makan.

Tanpa perlu waktu lama Chanyeol sudah berdiri di depan kamar kakanya. “Tok. . . tok . . . tok . . . noona sarapan sudah siap” seru Chanyeol. Satu detik, dua detik, dua setengah detik. . . seharusnya wanita itu sudah membuka pintu kamarnya. “Tok. . . tok . . . tok . . . noona! Apa kau belum bangun?” Seru Chanyeol lagi sambil kembali mengetuk pintu.

Tidak terdengar suara. Tidak ada respon dari dalam kamar. Apa Yoora sakit?

“Tok . . . tok . . .”

“Krekk. . .” Pintu terbuka sebelum Chanyeol selesai mengetuknya. Yoora muncul dengan rambut berantakan hingga menutupi wajahnya. Chanyeol hampir tak sanggup menahan tawa sampai Yoora tiba-tiba memeluknya.

“Jangan bergerak, sebentar saja.” Ucapan Yoora berhasil membuat laki-laki humoris itu terpaku. Otaknya kembali berpikir sebenarnya apa yang terjadi pada Yoora.

Belum lama setelah Yoora memeluknya Chanyeol merasa bahu kanannya basah. “Noona. . . apa kau menangis?” Tanya Chanyeol.

Yoora hanya menggeleng pelan tanpa melepaskan pelukannya.

. . .

Detik jarum jam seolah menjadi penghuni tunggal dalam ruangan itu-kamar Yoora. Sejak beberapa menit yang lalu Chanyeol hanya mampu melihat kakaknya terbaring lemah di atas ranjang. Belum ada hal yang ingin Chanyeol tanyakan, pikirannya masih menerka-nerka mengenai mala petaka apa yang menimpa Yoora sampai tidak selera makan dan enggan bicara. Chanyeol pernah melihat Yoora yang seperti ini, bertahun-tahun lalu saat ayah mereka meninggal. Tapi itu sudah lama, lama sekali bahkan Chanyeol saja tidak ingat detail kejadiannya. Lalu kenapa Yoora mengeluarkan ekspresi ini lagi? Apa dia teringat ayah mereka?

Noona, tolong katakan sesuatu agar aku yakin kau masih bernapas” gurau Chanyeol berusaha memecah keheningan.

Ya Park Chanyeol, kau ingin aku mati?” Jawab Yoora lirih. “Pergilah aku sedang tidak ingin bermain” lanjutnya sambil mengubah posisi tidur sehingga membelakangi Chanyeol.

“Ada hal buruk yang terjadi?” Chanyeol memberanikan diri untuk bertanya. Walaupun kakaknya itu cerewet, pemarah, dan suka membentak tapi dia tetap seorang wanita yang lemah terhadap perasaan. “Katakan saja jika kau sakit, aku bisa membelikanmu obat.” Yoora tetap tidak menjawab. “Ya! Apa kau sakit? Ada hal buruk yang terjadi? Kau dicampakan pacarmu?” Tangkas Chanyeol dalam sekali ucap.

“Em. . .” Akhirnya Yoora mengeluarkan suara.

Noona, kau benar-benar sakit?” Ucap Chanyeol lebih pelan.

Untuk pertanyaan yang barusan Chanyeol merasa bersalah, seperti puluhan anak panah tiba-tiba melesat ke arahnya karena salah bicara pada seorang raja. Begitukah hati lelaki jika mendengar suara tangisan wanita?

Yoora akhirnya membuka mulutnya, membuka selebar-lebarnya sampai mengeluarkan makian dan tumpahan air mata di depan pria yang setiap hari bertengkar dengannya. Tidak peduli lagi dengan apa yang Chanyeol lakukan setelah hari ini. Bisa jadi Chanyeol akan menertawakannya seperti orang gila, atau mengejeknya seperti badut dalam pesta, tidak penting. Yang Yoora perlukan saat ini adalah tempat berbagi, teman bicara.

Yah, setelah Chanyeol duduk dan mendengarkan tangisan kakaknya dia tahu semua cerita tentang hari terburuk dalam hidup Yoora. Bagaimana tidak? Pria yang sudah dipacari selama lima tahun rela meninggalkannya untuk menikah dengan gadis lain. Apa itu masuk akal? Chanyeol saja tidak habis pikir dengan pria macan itu, yang bisa dengan mudah menyakiti hati wanita yang telah menemaninya selama lima tahu. Masuk akalkah? Bisakah dia disebut pria? Walaupun Chanyeol belum mendengar secara langsung alasan pria itu meninggalkan kakaknya, Chanyeol tetap tidak bisa terima alasan atau apapun yang membuat kakaknya menangis semalaman.

“Banyak pria lain yang lebih baik. Kau terlalu baik untuk menangisinya” ucap Chanyeol.

“Benar, air mataku terbuang sia-sia.”

“Kau pasti mendapat yang lebih baik noona.” Chanyeol mencoba menyemangati Yoora, sekali-kali berperan menjadi adik yang baik.

Aigo gomawo.” Akhirnya sebuah senyuman terukir di wajah Yoora.

“Apa menurutmu cukup hanya dengan terimakasih?” Chanyeol mulai memancing reaksi Yoora.

“Kau pikir dengan begini bisa lolos dari taruhanmu? Tidak bisa!” Tegas Yoora, sepertinya tenaganya sudah kembali terisi. Saat yang tepat untuk Chanyeol menyingkir daripada dia harus mendengar Yoora beretroika lagi tentang hubungan abnormalnya dengan Baekhyun.

– Flechazo –

Hyung! Kau dari mana saja sejak tadi kami mencarimu” ucap Jongin yang menemui Chanyeol sedang berdiri di depan aula.

“Aku. . . aku di kelas seharian” jawab Chanyeol gugup. Sebenarnya dia ingin mengungkapkan sesuatu pada Jongin tapi dia menahanya.

Terlintas lagi kejadian kemarin sore di depan studio, ketika Soojung dan Minhyuk bertengkar. Ingin sekali rasanya Chanyeol membongkarnya di depan Jongin. Tapi apa daya Soojung telah meutup mulutnya tanpa menggunakan muslihat apapun, hanya dengan satu kalimat ‘aku mohon, sunbae’. Ah, kalimat paling mengerikan yang pernah keluar dari mulut Jung Soojung. Disamping itu Chanyeol punya alasan lain setelah melihat kakaknya menangis pagi ini, ada rasa iba yang muncul ketika dia mendengar seorang wanita memohon padanya dengan nada frustasi.

Ya, kau kemana saja sejak pagi aku tidak melihatmu.” Pekik Baekhyun saat melihat Chanyeol dengan Jongin.

“Hai Chanyeol, Jongin” sapa Jongdae yang berjalan di belakang Baekhyun.

“Hai hyung” sapa Jongin balik.

“Kenapa kalian berdiri di sini? Ayo cepat masuk” ucap Kyungsoo yang tiba-tiba muncul dari belakang Jongdae.

“Sejak kapan kau berdiri di belakangku?” Tanya Jongdae dibalas tatapan kosong oleh Kyungsoo. Err mana mungkin Jongdae mau bertanya lagi atau sekadar bergurau dengan Kyungsoo jika mata bulat itu sudah nampak.

“Mana Sehun?” Tanya Chanyeol.

“Ah dia. Mungkin tersangkut di toilet” jawab Jongin. “Tenang saja hyung dia sudah hafal jalan ke aula, kita masuk dulu saja” lanjut Jongin.

“Aku dengar kau terlambat tadi pagi” tanya Baekhyun saat berjalan memasuki aula.

“Ooh itu, hehe aku kesiangan” jawab Chanyeol disambut tatapan tak percaya dari Baekhyun. “Wae? Apa masalahnya denganmu?” Dengan reflek Chanyeol membentengi dirinya dari Baekhyun dengan tangan yang dibuat menyilang di depan dada.

“Ya ya, apa salahnya aku menanyakan itu” sanggah Baekhyun.

“Apa kalian berdua bisa diam? Itu guru Kim datang” ucapan Kyungsoo membuat mereka diam, begitu pula semua anak yang berada di dalam aula. Mereka diam setelah melihat guru Kim dan Jongsuk naik ke panggung.

Latihan hari ini tidak jauh berbeda dengan kemarin, hanya menghafal naskah. Yah, hanya menghafal dan menghafal belum memasuki latihan akting ataupun vokal, itu membuat Sehun dan Jongin merasa bosan. Bagaimana mereka menikmati drama jika tidak ada akting.

“Untuk yang terpilih menjadi narator harap menemui bapak di samping panggung, kemudian yang lain bisa latihan menghafal naskah. Kali ini latihannya harus berpasangan, bapak ingin kalian mulai membangun chemistry dengan lawan main kalian” jelas Guru Kim. Akhirnya penantian Jongin terpenuhi, dengan ini dia bisa melihat Soojung lebih lama tanpa takut dimarahi.

Suasana aula mulai ribut, anak-anak bertebaran mencari pasangan dan tempat latihan. Chanyeol terlihat sedang mencari seseorang, yap siapa lagi kalau bukan Baek Sumin. Tap! Belum dia menemukan gadis pujaannya sepasang mata tajam tiba-tiba melintas. Minhyuk tidak sengaja menyenggol pundak Chanyeol saat membawa properti. Tubuhnya sedikit membungkuk seolah meminta maaf tapi mata dan raut mukannya sama sekali tidak mencerminkan perasaan bersalah. Apa perang dunia kedua telah dimulai?

Sunbae!!” Teriak seorang wanita yang suaranya Chanyeol kenal dan ini cukup menjelaskan kenapa perang dunia kedua muncul.

Chanyeol cepat-cepat menoleh pada sumber suara sekaligus menghindari tatapan Minhyuk yang kian membuat matanya perih.

Sunbae terimakasih yang kemarin” ucap Soojung girang.

“Kemarin?” Tanya Chanyeol. Apa yang dimaksud Soojung itu pertemuan dengannya kemarin? Lalu apa yang patut diucapi terimakasih?

Ne, ramennya. Terimakasih” ucap Soojung.

“Aah itu,” tiba-tiba Chanyeol mengingat seuatu. Pantas saja mamanya tahu dia bersama ‘wanita cantik’ noona di swalayan itu kan dulu pernah bekerja di kantor mamanya, mungkin dia yang melapor.

“Kapan-kapan aku yang traktir, oke?”

Kapan-kapan? Gumam Chanyeol. Kemarin saja Soojung yang membayar ramennya, maksudnya dengan kapan-kapan itu? Chanyeol kemudian menengok ke belakang memastikan keberadaan Kang Minhyuk.

“Jangan hadap belakang!” Soojung segera menghentikan tolehan kepala Chanyeol dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua telinga Chanyeol. “Ah maaf” reflek Soojung menjauhkan tangannya dari jangkauan Chanyeol saat pria itu menatapnya kikuk.

Baiklah sekarang Chanyeol mengerti kode dari kelakuan Soojung. Gadis incaran Jongin ini sedang melakukan drama dengan pacar yang bisa dibilang hampir menjadi mantan. Soojung sengaja mendekati Chanyeol agar Kang Minhyuk tersulut api cemburunya. Em. . . apa momen ini bisa Chanyeol manfaatkan? Ahh mungkin Soojung bisa diajak kerjasama sebagai pacar sewaan, atau lebih tepatnya pura-pura menjadi pacar Chanyeol dalam beberapa hari ini untuk memenangkan taruhannya dengan Yoora.

Ide brilian, cemerlang yang datang seirama dengan timing yang tepat. Tapi setelah Chanyeol menoleh ke arah Jongin dan Sehun timing itu tiba-tiba memudar. Benarkah Chanyeol bisa melakukan ini? Memperdayai Yoora dan teman-temannya? Tidak mungkin. Lihat, dia bicara seperti ini saja dengan Soojung mata Jongin dan Sehun tidak semilipun berpindah darinya. Apa lagi. . . sudahlah.

“Kenapa kau tidak latihan dengan Jongin?” Tanya Chanyeol.

“Kenapa sunbae latihan sendiri?” Jawab Soojung. “Bukankah guru Kim bilang latihan berpasangan? Pasangannya boleh siapa saja, dan di sini ada kita berdua jadi sunbae menjadi pasanganku” lanjut Soojung tanpa bisa dijeda oleh Chanyeol.

“Tapi, aku . . .” Chanyeol mencari-cari sosok Baek Sumin.

Eoh, sunbae sudah punya pasangan?” Soojung ikut memandang seseorang yang Chanyeol cari. Karena tidak menemukan seseorang yang Chanyeol maksud Soojung kemudian membuka naskah dramanya, mencari satu persatu pemain yang kira-kira berpasangan dengan Chanyeol.

“Baek Sumin?!” Pekik Soojung membuat Chanyeol menoleh. Dia terkejut sekaligus panik karena lengkingan suara Soojung. “Apa sunbae ingin berlatih dengannya?”

Chanyeol tidak menjawab, dia sedang berusaha menggeleng tapi kepalanya malah mengangguk, jadilah gerakan yang tidak sinkron.

“Wah, sepertinya sunbae sangat menyukai Sumin” ucap Soojung setelah melihat ekspresi Chanyeol. “Oke sebentar. Sumin-ah!!” Teriak Soojung membuat gadis berambut sepunggung itu menolehkan kepalanya. “Sumin-ah ke sini” panggil Soojung.

Ini kali pertama Chanyeol melihat gadis cerewet, pemberani, pintar akting, dan disukai banyak pria. Luar biasa Jung Soojung, Chanyeol ingin memberinya applause tapi apa daya dia terlalu gagap untuk melakukannya. Apalagi setelah tubuh Baek Sumin semakin mendekat.

“Sumin-ah, kau jadi istri Toba kan?” Tanya Soojung tanpa basa basi.

“Iya. Ada apa?” Oh tuhan Chanyeol tidak bisa menahan pesona Sumin yang begitu polos.

“Ayo latihan. Kau dan sunbae” jawab Soojung.

“Ah, aku . . .” Sumin terlihat gugup.

Chanyeol meremas-remas tangannya di dalam saku celana melihat ulah Soojung. Astaga wanita ini kenapa terburu-buru.

“Apa perlu aku contohkan? Sunbae kau bisa baca percakapan adegan kedua Toba dan Ikan Mas?” Ucap Soojung kembali mengejutkan Chanyeol.

“Kalau sunbae tidak keberatan” ucap Sumin sambil melirik Chanyeol.

Kira-kira sekarang apa yang Chanyeol rasakan? Mungkinkah jantungnya meledak. Tidak, belum. Wanita memang sulit diprediksi, tadi pagi kakaknya, lalu Soojung, sekarang gadis yang dia sukai. Memohon? Lagi? Bolehkah Chanyeol menolak? Ah tapi ini bukan saatnya untuk menolak, untuk Sumin apalah yang Chanyeol tidak bisa.

Dengan gaya bak artis ternama Chanyeol memulai aktingnya sebagai Toba. ‘Wah ikannya besar sekali, ini pasti enak jika dibakar’ dialog pertama berhasil dan lancar diucapkan oleh Chanyeol dengan aksen yang tepat. ‘Tolong jangan makan aku’ dialog kedua diucapkan oleh Soojung, tidak kalah hebat. Dialog ketiga, empat dan seterusnya sampai adegan kedua berakhir Chanyeol dan Soojung berhasil membuat Sumin tak henti-hentinya bertepuk tangan.

Daebak!! Kalian berdua sangat pandai berakting. Sunbae kau sangat jago” ucap Sumin dengan senyum sumringah.

Apa Chanyeol bermimpi melihat malaikat tersenyum padanya? Mimpikah? Tolong siapa saja yang melihat Park Chanyeol ter-bengong, tamparlah pipinya, sadarkan bahwa kakinya mulai melayang meninggalkan bumi.

Berkat Soojung. Iya ini adalah balasan dari sang pencipta sebagai bentuk terimakasih yang telah dikirimkan Soojung atas nama dirinya. Tidak sia-sia kemarin Chanyeol menemaninya makan ramen. Soojung memang paling tahu caranya berterimakasih.

Tidak terasa waktu latihan telah habis, Chanyeol sangat bahagia bisa bercakap dengan Sumin walaupun sangat terbatas. Tapi dia jadi tahu, Sumin bukanlah gadis dingin yang sulit ditaklukan. Kuncinya, asal kau tahu apa yang membuat seorang gadis kagum untuk saat itu kau sudah mendapat seperempat perhatian darinya. Kembangkan terus maka kau akan mendapat semuanya.

“Sumin!!” Seorang pria tiba-tiba memanggil nama Sumin ditengah kebahagiaan Chanyeol.

Eoh, Myungsoo-ya” balas Sumin. “Maaf aku harus pergi. Aku duluan Soojung-ah, sampai ketemu besok sunbae” ucap Sumin sambil membungkuk kemudian bergegas pergi menemui pria yang dipanggil Myungsoo itu.

“Huh” dengusan napas Chanyeol terdengar kecewa. Wanita, semenit yang lalu membuat hatinya penuh ladang bunga, semenit berikutnya berubah menjadi gurun sahara.

Sunbae aku juga mau pulang dulu” ucap Soojung.

Ne” jawab Chanyeol lemas. “Oh iya, boleh aku tanya sesuatu?” Tanya Chanyeol sebelum Soojung berbalik.

“Tanya saja” jawab Soojung yakin.

“Em, itu. . . Sumin, apa dia sudah lama dekat dengan Myungsoo?” Tanya Chanyeol hati-hati.

“Mereka. . .” ucap Soojung terlihat berpikir. “Tanya saja sendiri. Annyeong. . .” Ucap Soojung meledek. Aih sekarang jantung Chanyeol benar-benar meledak.

. . .

Tubuhnya mungkin bisa menghindari Jongin dan anak-anak seusai latihan tadi tapi tidak untuk ponselnya. Baru saja Chanyeol merebahkan badan sehabis berganti pakaian ponselnya berulang kali menunjukkan notifikasi dari chat room. Hem. . . Chanyeol hanya menghela napas sebelum dia memutuskan untuk menelusuri kekacauan apa yang telah mengguncang chat room.

Sehun

Daebak, sejak kapan Soojung jadi akrab denganmu hyung

Jongin

Dia sedang bertengkar dengan Minhyuk jadi dia pura-pura mendekati Chanyeol hyung

Jangan sampai terpikat padanya hyung aku mohon :”(

Baek

Ya ya Kim Jongin

Ucapanmu itu tidak terbukti,

mungkin dia tidak mau dekat-dekat dengamu *peace 😀

Astaga, apa Jongin seorang peramal. Kenapa perkiraannya tepat sekali. Sungguh Chanyeol merasa bersalah harus menutupi masalah ini. Salahkah jika dia memberitahu Jongin dulu, atau Baekhyun mungkin? Agar bebannya menjadi ringan, paling tidak dia tidak merasa bersalah sendirian. Sepertinya dia harus melupakan rencana meminta Soojung menjadi pacar sewaan. Oh, apa yang harus Chanyeol perbuat.

Chanyeol

Tenang guys

tidak terjadi apa-apa antara aku dan Soojung

dia hanya memintaku menemaninya berlatih

Sehun

Kenapa dia tidak berlatih dengan Jongin saja?

Bukankah Jongin yang menjadi lawan mainnya

Jongdae

Setuju dengan Sehun

Chanyeol

 Mungkin dia masih canggung dengan Jongin

Baekhyun

Menurutku dia akan lebih canggung denganmu *pensive

Aku jadi heran

Jongdae

Haha sang pacar mulai cemburu

Baekhyun

Jongdae aku sedang tidak main-main -__-

Jongdae

Berarti sungguhan kau cemburu? :v

Baekhyun

YA YA. . . Jongdae-ya aku punya banyak sepatu :@

Jongdae

Haha baiklah-baik 😀

Chanyeol

Bukan begitu, mungkin karena ada Soojung

dan sepertinya mereka teman sekelas jadi Sumin lebih nyaman

Sehun

Aha yehet, aku mengerti sekarang

jadi bukan karena Soojung menyukaimu hyung?

Jongin

Ya Oh Sehun!! Beraninya kau bilang seperti itu 😦

Sehun

Maaf Jong bukan maksudku *peace Tapi aku kira begitu 😀

Baekhyun

Aku kira juga begitu 😀

Chanyeol

Kenapa kalian bisa berpikir sampai situ -_-‘

Jongin

Teganya kalian

Jongdae

Jongin mulai berasap

Sehun

Pantas saja di sini bau gosong

ibuku sedang memanggang sosis kekeke

Jongdae

Oh Se! -____-

Kyungsoo

Jadi yang Sehun bilang itu benar

Myungsoo naksir Sumin?

Chanyeol

Apa maksudmu membawa-bawa Myungsoo ke dalam sini Kyung

Jongdae

Setuju dengan Kyungsoo

Baek

Kenapa dari tadi kau setuju terus

Jongdae kreatiflah sedikit -__-

Sehun

Menurutku juga begitu hyung

dari awal aku sudah yakin

Jongdae

Hehe maaf aku sedang membantu ibuku

jadi tidak bisa berkomentar banyak

Baek

-__- Baiklah

Eh tapi menurutku tentang Myungsoo dan Sumin

sepertinya mereka sudah sangat dekat, kalian lihat tadi kan?

Jongdae

Setuju dengan Baek

Baek

Ya! Kau bantu ibumu dulu sanah

Kyungsoo

Menurutku mereka sudah dalam tahap pendekatan

Atau jangan-jangan

Sehun

Mereka sudah pacaran

Baek

Bisa jadi

Wah wah bagaiamana ini yeol

sepertinya Myungsoo lebih cocok dengan Sumin

Chanyeol

Ya kalian kenapa memojokkanku seperti ini

Sehun

Ah tidak hyung kami hanya memperingatkanmu untuk siap-siap

Tapi ngomong-ngomong ke mana Jongin?

Jongdae

Jongin kau tidak bunuh diri kan?

Baek

Jongdae apa kau sudah selesai membantu ibumu?

‘Tak’ Chanyeol meletakkan ponselnya, dia sudah lelah. Lelah dengan pikiran-pikiran tentang sesuatu yang tidak pasti, sesuatu yang masih merupakan teka-teki. Ah, tidak seharusnya dia termakan oleh ucapan Sehun dan Baekhyun tapi otaknya benar-benar enggan untuk berhenti, terus saja membayangkan kalau cintanya itu tidak akan terbalas, kalau Baek Sumin sebenarnya pacar Myungsoo, dan muncul lagi kalimat Jongin tentang ayah Sumin seorang pedofil. Arggg. . . Chanyeol mengacak rambutnya tanda lelah berpikir.

– Flechazo –

Chanyeol mulai menikmati dramanya dengan Sumin, latihan drama maksudnya dan mulai mengesampingkan hal-hal yang tidak pasti karena itu membuatnya pusing. Seperti pagi ini, saking semangatnya latihan drama dia sampai terbangun pagi-pagi dan tidak bisa kembali tidur. Dia begitu penasaran dengan adegan apa yang akan Sumin peragakan di depannya. Tertawakah? Yah mungkin Chanyeol perlu membuat lelucon untuk membuat Sumin tertawa setelah kemarin Sumin terkagum-kagum dengan aktingnya.

Hari ini guru Kim menyuruh mereka latihan berpasangan lagi, tentu saja Chanyeol sangat menyukainya. Dia dengan senang hati berlatih bersama Baek Sumin, tapi dia harus rela dicurigai Sehun dan Jongin karena Soojung kembali berlatih bersama mereka. Mau bagaimana lagi, tanpa Soojung Sumin tidak akan berdiri di depan Chanyeol dengan sikap seperti sekarang.

“Ya ya ya, kalian sedang melihat apa bukannya berlatih” terdengar suara Jongsuk mengomentari perbuatan Jongin dan Sehun. Bagaimana tidak? Mereka berdua bukannya latihan malah menonton Chanyeol, Soojung, dan Sumin, lebih tepatnya memata-matai. Dari posisi berdiri sampai jongkok dan saat ditemui Jongsuk mereka sudah tengkurap di lantai dengan kedua tangan menyangga dagu seperti dua anak SD sedang menonton televisi.

. . .

“Ini pasti sangat berarti untuk teman band-ku. Soojung-ssi terimakasih” ucap Chanyeol setelah menerima lembaran kertas dari Soojung.

“Ya apa kalian masih lama?” Teriak Minhyuk dari kejauhan.

“Aku harap sunbae menyukainya. Baiklah aku pergi dulu Minhyuk oppa sudah menunggu. Annyeong. . .” Soojung langsung berlari ke arah Minhyuk.

Syukurlah mereka sudah baikan. Ah tunggu, bagaimana ini aku malah senang di atas penderitaan Jongin. Jongin maafkan aku” guman Chanyeol ketika melihat Soojung dan Minhyuk kembali akur.

Sunbae.” Sebuah suara membuat Chanyeol menoleh dengan jantung berdegup melebihi batas normal.

“Ah. . . Sumin-ssi­” ucap Chanyeol gugup.

“Terimakasih atas latihanya hari ini, aku akan berusaha lebih baik.”

“Ah ne.” Jawab Chanyeol singkat, sepertinya dia kembali amnesia dengan kata-kata.

“Aku pulang dulu, annyeonghigeseyo.”

Annyeong. . .” Sebuah kalimat kembali tertahan di ujung lidahnya ketika berdiri di depan Sumin, sesuatu yang sangat penting ingin dia tanyakan dan kali ini dia kehilangan kesempatan itu lagi. Tangan Chanyeol gemetar saat tubuh Sumin semakin jauh dari jarak tubuhnya. “Sumin-ssi” ucapnya.

Ne sunbae” Sumin menghentikan langkahnya segera menoleh ke sumber suara.

“E. . .” Kata-kata Chanyeol kembali bersembunyi, terlalu gugup untuk keluar.

“Ada yang ingin sunbae tanyakan?” Tanya Sumin memastikan.

“Myungsoo, dia. . . apa dia pacarmu?” Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Chanyeol.

Ne?” Terlihat ekspresi terkejut dari wajah Sumin.

“Maksudku aku menjadi lawan mainmu dalam drama, kalau dia pacarmu . . .”

“Aah, dia temanku sejak kecil karena itu kami akrab. Tapi tidak perlu khawatir dia bukan pacarku.” Tangkas Sumin sebelum Chanyeol menyelesaikan penjelasannya.

Jawaban Sumin seperti sensasi dingin saat menyeruput jus mangga di siang bolong yang panas. Menyegarkan, menyehatkan terutama untuk hati dan pikiran. Chanyeol terasa hidup kembali setelah beberapa hari ini memikirkan banyak hal tentang kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi. Dan hari ini tiba-tiba semua keraguannya untuk mendekati Baek Sumin sirna, pintu gerbang sudah terbuka lebar, Chanyeol hanya perlu beberapa langkah untuk masuk.

Hyung!” Suara Jongin membuat Chanyeol terpental dari lamunannya. Tidak disangka ternyata lima manusia termasuk Jongin sedang menatapnya nanar dengan penuh pertanyaan.

“Ya apa yang kalian lakukan, mengagetkan saja” ucap Chanyeol.

“Apa yang tadi kau bicarakan dengan Soojung?” Tanya Baekhyun dengan mata menyipit gaya mengintrogasi lawan bicara.

keut –

Bosenkah? Ngga ngeh? Maafkan daku jika ceritanya panjang lebar ngga karuan -__- ide begitu banyak tapi eksekusinya begini adanya, dan mungkin sedikit melelahkan saat membaca ff ku ini choesunghamnida.

Sebelumnya terimakasih kak ila yang sudah membuat project ini memasukkan aku ke dalamnya dan bertemu banyak teman baru khususnya dalam dunia per-ff-an. Aku akui dalam hal ff belum semahir kalian :’) mohon dimaklumi dan silakan beri kritik sarannya.

Terimakasih juga buat yang sudah baca dan berkomentar 😀 Untuk cerita selanjutnya aku serahkan kepada  Simpleshine semoga bisa memperbaiki kekurangan ff ku ini. Good luck 😉

Oh iya maaf untuk deadline yang molor sehari :’)

Iklan

97 thoughts on “[FF Berantai] Flechazo: Suddenly

  1. Reblogged this on callarise and commented:
    trackback! okay, aku sudah cukup ketinggalan banyak buat ff ini ^^ untuk tulisanmu ak gak bakal terlalu banyak komen, karena setiap orang punya gaya nulis masing-masing.
    Tapi ini aku aja atau gimana yah? ‘drama-thing’ ini ko agak kurang nyaman yah hhaha tp gak masalah kan kamu nerusin dari part sebelumnya ^^ trus untuk karakter sumin disini tuh agak sedikit kontra sama deskripsi karakter dia di chapter-chapter sebelumnya yang dingin dan susah untuk di deketin + ada pandangan chanyeol disini yang bilang kalau sumin itu gadis dingin yang susah ditaklukan tapi waktu latian bareng soojung dia oke aja dan malah terkesan ramah banget
    oke deh itu aja makasih ya ^^

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ping-balik: dafun sefun

  3. Ping-balik: Projek FF Berantai | uncharted spot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s