Sayang Untuk Disesalkan

blue-valley

Ada yang bilang untuk mendapatkan satu hari yang longgar kamu bisa memulainya lebih pagi. Untuk banyaknya tugas kantor yang tumpukannya sudah menggunung aku mencoba kiat tersebut, berangkat lebih pagi. Satu jam lebih awal dari biasanya. Siapa tahu kan malam rabuku tidak kelabu karena terjebak bersama layar monitor di kantor. Aku bisa memanfaatkan kelonggaran waktu untuk bersantai ria atau sekadar menambah waktu tidurku.

“Hem…” Kusempatkan menikmati hirupan napas. Udara pagi memang tidak pernah mengecewakan, masih dingin dan menyegarkan. Ya walau tak sejernih di kampungku paling tidak asap kendaraan belum memenuhi langit-langit kota. Karena mobil dan kendaraan pribadi lainnya masih tertidur pulas di kandang menunggu majikannya bersiap-siap. Tapi sepertinya bus pengantar anak sekolah sudah mulai berkumandang bersiap memberi tumpangan pada jiwa yang haus ilmu sekaligus memberi pundi-pundi penghasilan bagi pemilik moda transportasi.

Halte cukup ramai dipenuhi anak sekolah, namun hanya ada dua wanita dan seorang nenek yang menempati kursi. Tanpa pikir panjang aku duduk di kursi terdekat tepat di sebelah nenek itu. Belum tuntas pantatku mendarat di dudukan besi sang nenek dengan senang tersenyum padaku, seolah mau menyambut kedatanganku sebagai teman ngobrol. Maka dari itu setelah membalas senyumannya aku langsung merogoh ponsel dalam tas pura-pura sibuk dengan sesuatu.

Tidak berselang lama nenek itu membuka percakapan, “Mau ke mana nak?” tanyanya sopan. Aku tidak bisa menghindar−menengok untuk menjawab sekenanya, “Sudirman nek.” “Ooh Sudirman. Memang kerja apa?” tanyanya lagi. “Kantoran” ucapku lebih singkat karena biasanya rentetan pertanyaan basa-basi dapat memunculkan topik yang tidak terduga. “Dulu cita-cita nenek juga bekerja kantoran” pandangan nenek itu beralih ke depan, aku meliriknya sebentar melihat raut mukanya yang seperti terserap dalam memori kelam masa lalu. Tidak lama nenek itu kembali bertanya, “Kerja di percetakan ya?” “Penerbitan nek” jawabku. “Memang berda ya?” tandasnya penuh rasa ingin tahu. “Sedikit berbeda” jawabku pelan.

Setengah menit berasa sangat lama saat nenek itu diam, mungkin sadar jika aku tidak senang diajak bicara. Bus tumpanganku juga tidak kunjung datang membuat perasaan bersalah kian lama menguar mengganggu pikiranku. Serba salah, aku hanya ingin menghindari obrolan panjang yang tanpa tujuan. Biasanya begitu kalau bertemu nenek-nenek. Ada yang tipenya agak bawel suka tiba-tiba memberi nasihat setelah panjang lebar menceritakan anak cucunya. Tapi rasa-rasanya kalau diam begini tidak enak juga, lagi pula nenek itu kelihatannya tidak terlalu rewel. “Punya cucu berapa nek?” tanyaku menyingkap keheningan jarak di antara kami. “Apa nak?” nenek itu seperti baru terbangun dari lamunannya dengan pelan aku mengulang pertanyaanku, “Punya berapa cucu?” “Ooh cucu” dia berhasil menangkap pertanyaanku. “Nenek punya banyak, ada ratusan mungkin.” Aku mengungkapkan rasa terkejut lewat ekspresi mukaku, “Semuanya cucu kandung?” tanyaku sopan. “Tentu saja bukan” jawab sang nenek sambil terkekeh. “Nenek tidak punya anak” lanjutnya yang kemudian mengantarkanku pada cerita masa mudanya.

“Namaku Asih, dulu ayahku punya perusahaan tekstil besar di kampung sedang ibuku seorang kepala SD. Keluarga kami cukup tersohor karena itu aku pun dikenal oleh hampir seluruh warga kampung. Banyak yang berusaha menjodohkan anaknya denganku, mereka bilang lakuku halus dan wajahku cantik.” Tak terasa pembicaraan kami kian menjauh sampai aku melewatkan bus pertamaku, tapi tak apalah aku juga ingin mendengar ceritanya. “Sesuai dugaanku perjodohan tetap terjadi meski sudah beberapa orang ditolak.” “Jadi nenek dijodohkan? Lalu…” reflek aku memotong ceritanya namun mengurungkan niat meneruskan pertanyaan berikutnya. “Aku dijodohkan dengan anak kenalan ayahku. Dia pria yang santun juga baik hati, aku langsung menyukainya.” Perjodohan yang menyenangkan, batinku. Andai semua perjodohan semulus itu.

“Awal yang baik nenek kira tapi bukan. Pria setampan dia sudah pasti punya kekasih. Dia sudah menolakku secara halus namun ayahnya tidak terima. Beliau ngotot mau menikahkan Erwin anaknya denganku.” “Walau bagaimana pun aku menginginkan pernikahan itu, entah aku merasa senang saja setelah Erwin akhirnya menyetuji pernikahan kami.” Nenek itu berhenti untuk menghirup napas beberapa kali, terlihat berat untuknya bercerita maka aku memintanya berhenti. “Tidak apa nak, nenek akan lanjutkan.” “Masih teringat dalam benak nenek pernikahan yang indah tapi tidak berlangsung lama. Hanya setelah resepsi usai Erwin berubah murung. Aku mencoba mengajaknya bicara, memintanya untuk mengeluarkan beban pikirannya padaku. ‘Kita sudah menikah jadi sudah seharusnya berbagi masalah’ ucapku waktu itu.”

Nenek itu terdiam lagi aku menggunakan kesempatan ini untuk menengok jam tangan, masih setengah tujuh. Baiklah beberapa menit lagi mungkin tidak apa-apa, batinku. “Apa kau sudah terlambat nak?” tanya nenek itu. “Ah tidak nek” jawabku santai seraya mempersilakannya meneruskan cerita. “Setelah setahun pernikahan kami tidak pernah tidur sekamar. Ternyata Erwin masih mencintai mantan kekasihnya. Karena aku yang memintanya membagi masalah dan karena dia berjanji akan berusaha mencintaiku, aku biarkan hatinya berkelana mencari penyembuhan” “Namun pada akhirnya aku tumbang juga. Suatu malam aku menangis dalam sujudku. Meminta ampun pada Tuhan barangkali ada kesalahanku di masa lalu yang membuat pernikahan kami tidak bahagia. Aku hampir menyerah memintai cerai. Tidak kusangka Erwin mendengar doa-doaku. Keesokan harinya ketika kami sarapan dia meminta maaf, ‘Mulai detik ini aku akan mencintaimu sepenuhnya, aku sudah melupakan Anita’ ucapnya membuatku lega. Aku sangat gembira sampai air mataku tumpah.” Beberapa orang tiba-tiba meirik ke arah kami menuduhkan pandangan-pandangan terusik. Kali ini aku tidak peduli dan kembali mendengarkan cerita nenek.

“Satu hari itu aku merasa sangat bahagia, merasa menjadi istri. Beberapa hari kami makan malam bersama, bercerita tentang keluh kesah seharian. Harapan yang selalu aku rapalkan dalam doa akhirnya terwujud, menjadi keluarga kecil yang bahagia. Minggu berikutnya masalah kembali datang, Erwin tiba-tiba bungkam tanpa suara. Lebih menyedihkan dari yang sebelumnya. Aku panik, tanya ke sana ke sini sampai aku mendapat inti permasalahannya” “Anita meninggal dunia.” Tandas nenek. “Sepertinya itulah yang mengakibatkan Erwin menjadi manusia patung selama berhari-hari. Kembali coba aku mengajukan pertolongan untuk Erwin, ‘Apa yang harus aku lakukan agar kau kembali seperti dulu?’ tanyaku, ‘Tidak ada’ jawab Erwin singkat. Kembali aku menumpahkan tangis dalam doa kemudian keesokan harinya Erwin mau bicara padaku, ‘Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencintaimu. Tolong tunggu sebentar’ ucapnya, dengan yakin aku mengangguk. Ini seperti kemarin, tidak akan lama Erwin pulih kembali. ‘Tapi maaf, aku harus pergi jauh untuk menata hatiku. Rumah ini terlalu sempit untukku berpikir’ lanjutnya. ‘Kau mau pergi ke mana?’ tanyaku. ‘Ke tempat yang tidak ada orang mengenaliku’ aku hanya bisa terdiam mendengar kalimat itu, sudah jelas nadanya Erwin akan meninggalkanku.”

Halte sudah tambah ramai sekarang, aku sampai tidak sadar semua kursi kini telah terisi penuh bahkan banyak yang berdiri di samping kanan kiriku. Kira-kira sudah berapa bus yang aku lewatkan, tapi aku tidak mungkin meninggalkan cerita nenek yang masih mengangtung. Tidak sopan juga bukan menghentikan orang yang sedang asik bercerita. “Erwin kembali nek?” tanyaku penasaran agar nenek langsung pada akhir cerita. Ya, mungkin ceritanya sudah berakhir Erwin tidak akan kembali dan itu alsannya kenapa nenek tidak punya anak. “Tentu saja dia kembali” jawab nenek santai membuat rasa penasaran kembali menjalar di tubuhku. “Setelah beberapa bulan Erwin pergi nenek berusaha mencari pria itu, keluarganya juga bantu mencari namun tidak kunjung ketemu. Sampai kami menyerah dan ibu mertuaku menyarankan untuk menikah lagi, tapi aku tidak mau.

“Dua tiga tahun nenek masih berharap Erwin kembali namun setelah itu naluri manusia nenek tidak dapat terbendung. Perasaan iri pada kehidupan pernikahan orang lain, ingin memimang anak, ingin dimanja suami. Untuk menghilangkan rasa sedih nenek mengadopsi seorang anak jalanan. Di saat seperti itu jiwa keibuan muncul ketika melihat seorang anak terlantar kurus kumal di pinggir jalan sedang mencari makan. Lambat laun anak yang nenek adopsi bertambah banyak, rumah nenek bak panti asuhan. Karena kekurangan uang nenek berkeliling meminta donatur pada teman-teman pebisnis ayah. Dari situ banyak yang membantu, ada yang menjadi sukarelawan dan donatur. Sampai umur lima puluhan nenek hidup dengan kebahagiaan dari anak-anak panti, tidak ingat lagi untuk mencari suami yang sudah hilang entah ke mana.” “Tidak disangka-sangka Erwin kembali setelah dua puluh enam tahun meninggalkan nenek. Dia kembali dengan wajah yang sudah dihantui kerutan, dia bersujud di kaki nenek sambil memohon maaf. Menangis, dia menangis seperti anak durhaka meminta maaf pada ibunya.” Terlihat cairan bening mengalir di pipi nenek yang keriput, tampak bekas-bekas ketabahan yang tersisa di wajahnya.

“Ah, maaf nak nenek terbawa emosi” ucapnya. “Tidak apa nek” jawabku. Dia menepuk bahuku seraya berkata “Sesuatu yang kita kira akan berlangsung singkat ternyata menjadi sangat lama, namun jika kita mengira berlangsung selamanya malah justru sangat singkat. Erwin meninggal empat hari setelah kepulangannya, ditengah anak-anak panti yang berkerubung ketika mendengar dongeng darinya.” Bunyi nging terasa berdengun ditelingaku, hampa terasa sesak menjejal dalam dadaku. Dunia terasa tak adil bagi nenek ini tapi aku salut beliau tetap menjalani hidupnya dengan penuh makna. “Nak? Kamu tidak telat berangkat ke kantor?” tanya nenek, “Eh?” aku melirik jam tanganku. “Ah,  masih ada waktu nek” lanjutku. “Kalau begitu nenek pergi dulu nak” nenek itu beranjak dari kursinya. “Iya hati-hati nek” ucapku tapi nenek itu malah berhenti. “Ada apa nek?” tanyaku heran. “Nenek ingin makan nasi uduk tapi hanya punya uang lima ribu” keluhnya. Lalu? Pikriku. “Aaa…” tanpa menunggu otakku sempurna berpikir aku merogoh dompet dan memberikannya selembar sepuluh ribuan. Hitung-hitung untuk membayar upah cerita. Setelah mengucapkan terima kasih nenek itu pergi.

Gagal sudah, bukannya berangkat lebih awal malah terancam telat. Huh, tidak apalah anggap saja mendapat pengalaman dari cerita nenek tadi. “Dita?” ketika menoleh aku melihat sosok Geri mendekat, astaga bertemu anak ini artinya aku sudah sangat telat. “Kok? Kamu baru berangkat?” tanyanya seolah terkejut dengan keberadaanku. “Ceritanya panjang” jawabku malas. “Ooh” ucapnya menyepelekan seolah dia menyindir ternyata seorang Dita bisa telat juga. “Eh Nek Santi muncul lagi” ucap Geri saat melihat sosok nenek yang tadi ngobrol panjang denganku. “Kamu kenal?” tanyaku langsung disahutnya, “Siapa sih yang ngga kenal Nek Santi. Dia itu ya suka bohong gitu, ngarang-ngarang cerita. Kalau udah dapet sasaran dia bakal ngajak cerita, ngoceh sampe lama trus kalau targetnya udah lemah baru deh dia minta duit. Kaya ongkos cerita gitu deh.” Jelasnya semangat kemudian menunduk saat melihat ekspresiku yang berubah sengit karena kepalaku tiba-tiba berdenyut. “Sorry, ngga penting ya?” gelagatnya meminta maaf, dia tahu kalau aku tipe orang yang melakukan segala sesuatu dengan mementingkan aspek manfaat dan keuntungan. “Huh” desahku akhirnya bus yang aku tunggu datang juga.

Karena sudah siang bus menjadi penuh sesak, menambah bad mood-ku berkali lipat. “Ya gini kalau berangkat siang, bisa rasain kan penderitaan gue” celoteh Geri. “Terus?” jawabku ketus berhasil membungkam mulutnya. Sesampainya di halte depan kantor kami turun, Geri terus saja mengikutiku. “Ge! Lu ngapain mbuntutin gue terus?” tanyaku kembali dengan gaya ketus. “Gue? Kita kan sekantor” jawabnya. “Ya lu bisa kali jalan duluan, atau jalan sebelah situ noh” tandasku geram. “Gu, Gue salah apa sih? Lu, lu ngga usah marah-marah gitu dong” gagapnya semakin parah. “Gara-gara lu ngoceh tentang nenek tadi itu” jawabku. “Tapi… Jangan-jangan lu?” Aku terpaksa mengakui telah dikelabuhi nenek bernama Santi itu, Geri hampir terkekeh namun berhasil dia tahan saat melihat ekspresi kesalku. “Sorry, sorry gue ngga bermaksud. Ya mungkin kali ini ceritanya bener. Dia cerita suaminya yang buta kan? Apa anaknya yang jadi TKI?” Pertanyaan Geri kali ini benar-benar membuatku meledak. “Dia cerita tentang suaminya yang udah meninggal. Puas?” ucapku pelan tapi penuh penekanan. “Bisa jadi kan dia nikah la…gi” sahut Geri.

Aku terpaksa menghentikan langkah. “Udah ngocehnya?” tanyaku ketus. Geri menganggukan kepala kemudia menyeringai kaku, dalam posisi ini baiknya dia memang tidak berkutik. Kesal campur malu serasa beraduk-aduk diperutku. Delapan empat puluh lima, telat lima belas menit. Seharusnya setengah tujuh aku sudah sampai kantor dan mengerjakan laporan. Satu seperempat jam terbuang sia-sia, benar-benar mubah setelah aku tahu cerita nenek itu hanya karangan. “Hai” Geri kembali mengusiku ketika kami berdiri menunggu lift. “Apa lagi? Mau tanya gue ngasih uang berapa ke nenek itu?” tensiku selalu meningkat saat berbicara dengannya. “Iya. Eh bukan bukan. Gue punya solusi buat maslah lu” ucapnya. “Itu pun kalau lu mau dengerin gue” Geri segera memberitahukan idenya setelah aku menyerngitkan dahi. “Lu bisa jadiin cerita Nek Santi jadi bahan tulisan. Soalnya konon nih ya kata orang ceritanya mengharukan gitu. Meyakinkan.” “Oh konon ya?” tanyaku. “Ya gue ngga pernah denger secara langsung sih, tapi…” “Oke bisa dicoba. Tapi kalau gue dituduh plagiat lu yang tanggung jawab ya?” ucapku santai sambil menaiki lift. “Siap bos!” Jawabnya lantang dengan gaya prajurit memenuhi perintah komandan. “Apa??” dia terkejut kemudian.

.

Tulisan ini fiktif belaka dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s