Perjalanan Menjelajah Waktu

Jadi mau ke manakah buku membawaku? Mengunjungi negerimu atau menggunjungi masa lalumu?

.

Awalnya nulis ini buat menuhin tantangan nulis “Perjalanan Membacaku Tahun 2016” yang diadain Bang @benzbara_ ealah ternyata lewat deadline gegara sinyal pergantian tahun lol :”) alasan saja. Tapi, yasudah inilah hasil perjalanan membacaku tahun 2016. Ditulis yang ngena aja (yang diinget ding wkwk)

.

Perjalanan dimulai jauh dari zaman Yunani Kuno di saat Plato dan Aristoteles meributkan cermin kehidupan dalam karya sastra (teori mimetik). Karena tugas negara mahasiswa tingkat akhir; cari referensi untuk skripsi, jatuhlah aku pada masa para filsuf itu. Tidak lama menetap aku sudah lari ke zaman yang lebih modern di mana pesawat mulai diciptakan. Dan terdaparlah aku di Gurun Sahara bersama seorang pilot yang pesawatnya mogok, dan Pangeran Cilik yang serba ingin tahu. Si Pangeran Cilik minta digambarkan domba yang tidak terlalu tua, kuat, dan cukup kecil untuk tinggal di planetnya yang mungil. Aku tidak banyak bicara, hanya melihat dan sesekali tertawa dengan cara sang Pilot bercerita. Beliau memang tidak sedang bergurau tapi entah aku merasa bahagia saja sehingga dengan mudah tersenyum kemudian tertawa. Haha kemudian aku rindu masa kanak-kanak penuh imaji tanpa beban pikiran. Sedih meskipun aku sudah bolak-balik mengerjakan skripsi tetap saja masih jauh dari kelar, padahal berpetualang dengan ‘Le Pettit Prince’ tidak sampai sehari kami harus berpisah.

Kembalilah diriku pada seonggok naskah penelitian belum jadi dan harus lagi mencari buku Prof. Dr. Sapardi untuk tambahan referensi. Ah… pegal rasanya nengok kanan-kiri tapi tidak menemukan ide yang dicari, seperti mencari alamat palsu di desa sendiri. Andai aku bisa menuliskan syair dalam naskah ilmiah, akan kubuat i i i i ditiap akhir kalimatnya seperti ini. Eh karena terlalu ngelantur aku bertemu Mba Maggie dengan teman-temannya yang sedang tersesat di luar angkasa. Dia bilang begini ‘Tarik napas. Tahan. Pikirkan hal-hal yang paling Anda syukuri. Bayangkan perjalanan jauh Anda dari rumah. Tahan. Jika Anda bisa menemukan jalan keluar, apa yang akan anda lakukan? Tahan. Berdoalah. Gantungkan harapan setinggi-tingginya. Tahan. Tenang, Anda belum mati. Lihat sekeliling Anda, perhatikan. Sesak?’ Iyaaa . . . huh sungguh aku tidak tahan benar-benar jika terus mengikuti anjurannya. Terasa tercekik apalagi jika melihat akhir perjalanan dari cerita-cerita yang disajikan. Absurd mungkin kata yang tepat dicantumkan karena mengadopsi ending menggantung dan membuat kami para petualang bergumam ‘Hah udah ngga ada terusannya? Serius?’.

Aku jadi ingat pernah diajak temanku ke sebuah peternakan bernama ‘Animal Farm’ karya George Orwell yang karya fenomenalnya ‘1984’ belum sempat kuselami. Isinya hampir tidak masuk akal, aku melihat binatang berbicara, bertingkah lucu, ada yang polos, pekerja keras, bijak, bahkan ada juga yang licik dan tukang bohong. Kalau dipikir-pikir sikap mereka seperti manusia. Tapi setelah keluar dari pagar peternakan aku berpikir ulang sepertinya manusia tetap lebih licik. Bukan tanpa alasan, karena setelah keluar dari peternakan Orwell aku diajak Sue Monk Kidd menyusuri peternakan lebah di Tiburon-Carolina Selatan (suatu negara bagian AS) bersama Lily dan Rosaleen. Bukan hanya berlajar menggembala lebah, lebih dari itu ada cerita pahit dibalik matinya seorang ibu dan kejamnya perbedaan kulit. Rasisme yang menyebabkan manusia memusuhi sesamanya, merendahkan yang lain dan menganggap dirinya lebih baik. Tapi aku sedikit lega karena ada banyak petuah dalam cerita ‘Rahasia Hidup Lebah’ ini. Semoga para pesombong dunia bisa membaca dengan seksama seperti mereka membaca angka-angka di slip gaji mereka.

Selesai? Yup. Bukan perjalanan membaca yang kandas tapi perjalanan kuliah. Bolehlah aku lega karena skripsi sudah diuji dan revisi aku menjadi lebih leluasa berpetualang mencuri pengalaman-pengalaman pengarang. Setelah ke zaman milenium aku kembali lagi ke zaman sebelum masehi. Dari cerita Paulo Coelho aku mendengar tetang Nabi Elia atau Nabi Ilyas (dalam agama Islam) yang berjuang menghadapi kematian dan ujian dari Tuhan. Tidak lama aku kembali ke zaman modern menemui Sarwono yang lagi main ke Jogja untuk urusan penelitian. Karya profesor memang tidak jauh-jauh dari proyek yang memeras otak, meskipun judulnya ‘Hujan Bulan Juni’ tetap saja mebahas masalah akademik kampus nan rumit. Ya ya kuakui memang tidak semua yang berbau rumit itu adalah barang ilmiah, masalah cinta saja menurut Sarwono menjadi masalah yang pekik. Seperti kisah cinta Pa-nya Hans Thomas pada wanita yang menjadi model di Athena, yang kata Jostein Gaarder sudah ditakdirkan jauh sebelum mereka lahir. Tapi hal itu tetap harus disyukuri, kata Pa ‘Mereka yang tidak eksis (tidak pernah ada) adalah yang tidak beruntung’ karena ‘Kehidupan adalah satu undian besar di mana hanya tiket-tiket pemenangnya yang tampak’. Jadi setelah mengikuti perjalanan dari Norwegia ke Yunani aku menyadari betapa sedikitnya kemungkinan aku dapat hidup sampai detik ini. Ditambah lagi bisa ikut jalan-jalan sekaligus diceritani filsafat lewat ‘misteri soliter’, perlu alasan apa lagi untuk bersyukur?

Aku putuskan untuk bersyukur lewat menimba ilmu dengan membaca lebih banyak. Aku mempelajari perpecahan suku dan patahati lewat ‘Metafora Padma’, aku mempelajari konsep MV BTS lewat ‘Demian’, belajar jadi kolektor sekaligus pengasuh buku lewat ‘Rumah Kertas’, belajar jadi guru bahasa dan sastra lewat ‘Aib dan Martabat’, belajar jadi orang suci lewat ‘Siddhartha’, tapi aku tidak ingin belajar jadi kesepian dari ‘Nowegian Wood’ makannya aku berhenti membacanya, maksudnya berhenti membaca dengan pelan-pelan. Sudah akhir tahun aku beri jenda sejenak untuk mulai lagi tahun depan, 2017. Jadi mau ke manakah buku membawaku? Mengunjungi negeramu atau menggunjungi masa lalumu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s